Bandar Lampung, MAN 2 (Humas) -- Bertempat di Aula MAN 2 Bandar Lampung, Kegiatan Keputrian dilaksanakan selama kurang lebih 45 menit. Kegiatan Keputrian ini dilaksanakan pada saat peserta didik laki- laki melaksanakan sholat Jum'at di Masjid, Jum’at (19/08).
Kali ini Kesetaraan Gender Menurut Islam menjadi materi menarik yang diberikan oleh guru MAN 2 Bandar lampung. Dengan menyajikan sebuah film Animasi tentang kesetaraan Gender, tampak antusias para peserta didik menyaksikannya.
Usai penayangan video film animasi kesetaraan gender, Novriyanti, S. Ag. selaku guru pembina keputrian langsung menanyakan kepada siswa tentang cerita dan isi dari video tayangan. Salah satu siswa menjelaskan dengan lantang, wanita itu kuat, wanita itu tidak lemah, semua pekerjaan yang berat dan mudah bisa dikerjakan oleh wanita. Sontak peserta disik menyahut nya dengan tepuk tangan.
Setelah mendengar pendapat siswa tentang kesetaraan Gender, Novri segera merespon dan menanggapi siswa tersebut dengan positif dan langsung menjelaskan kesetaraan gender menurut Islam.
Kata Novri, dalam Islam posisi perempuan sangat dimuliakan, meski tidak perlu dipahami sebagai setara dengan laki-laki. Ada banyak dalil dalam Alquran yang menjadikan kedudukan perempuan sangat istimewa dan mulia.
“Kesetaraan gender sebagaimana yang kerap digaungkan kaum modern cenderung menyisakan bias tersendiri. Kesetaraan belum tentu berarti keadilan gender bagi perempuan. Sedangkan dalam Islam, keadilan terutama bagi perempuan, sangatlah dijunjung tinggi,” jelas Novri.
Ia menjelaskan Firman Allah dalam Alquran surah an-Nahl ayat 97 yang berbunyi, "Man amala shalihan min dzakarin aw untsa wa huwa mukminun falanuhyiyannahu hayatan thayyibatan". Yang artinya : Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.
Dalam kitab Shahih Muslim, pada konteks tertentu, perempuan justru memiliki posisi istimewa dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, "Al-jannatu tahta aqdamil-ummahati." Yang artinya, "Surga itu berada di bawah telapak kaki ibu." Namun, meski posisi perempuan sangatlah dimuliakan, perbedaan fisik antara laki-laki dengan perempuan jelas berbeda jauh.
“Kemampuan fisik perempuan dengan laki-laki pada umumnya memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Secara hormonal laki-laki lebih berotot dan memiliki tulang serta kulit yang lebih keras dibandingkan perempuan. Perempuan memiliki hormonal yang berbeda. Kaum Hawa dapat mengandung, melahirkan, hingga menyusui. Hal ini disebut sebagai perbedaaan kodrati,” jelasnya lebih lanjut.
“Secara sosial, peran serta kedudukan perempuang dengan laki-laki pun berbeda dalam keadilan yang diatur dalam agama. Untuk urusan rumah tangga, aktivitas, seperti menyapu, mengepel, hingga memasak kerap diidentikkan merupakan kewajiban kaum perempuan. Padahal, sejatinya hal itu merupakan kewajiban laki-laki,” imbuhnya.
Lebih lanjut Novri mengatakan, terlepas dari perbedaan antara laki-laki dan perempuan, kesetaraan sudah mulai banyak dirasakan oleh kaum perempuan. “Perempuan yang sering dianggap makhluk yang lemah saat ini sudah tidak 100% terbukti. Karena banyak juga wanita yang memiliki kekuatan melebihi kaum laki-laki. Kodrat Wanita yang harus melahirkan, menyusui, mengurus rumah tangga bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi jika wanita itu juga bekerja untuk membantu perekonomian keluarga,” tambah Novri.
“Jadi pada prinsipnya jika laki-laki dan wanita dapat memposisikan diri sesuai kodrat dan dapat seiring sejalan, saling bersinergi dalam keluarga dan juga di dalam suatu pekerjaan, maka gender bukan lagi merupakan sebuah permasalahan tentang siapa yang paling berperan dan dominan,” pungkasnya. (Ida/Eva/Adi)
